Tuesday, January 24, 2012

J atau Y, Tetap Saja Istimewa!

Kepada Jogjakarta (atau Yogyakarta?) yang selalu istimewa,

Baru saja aku melambaikan tangan padamu. Hanya dua hari aku menghabiskan waktu disini, rasanya kurang, sangat kurang. Aku masih ingin menjelajahi setiap trotoar di kota, menyambangi setiap desa wisata dan mengunjungi semua obyek wisata di peta. Yang biasa saja di kotaku, menjadi lebih berkesan padamu.

Naik becak?
Di kotaku hal ini biasa saja. Tapi menjadi istimewa ketika berkeliling sekitar Malioboro. Sepuluh ribu pun cukup untuk diantar membeli oleh-oleh berbonus guyonan ala Jogja dari para tukang becak.

Makan sego kucing?
Kulakukan selalu ketika insomnia menyerang, terlalu biasa. Tapi jadi istimewa ketika aku membelinya di gang dekat penginapanku di Jogja, dan setelahnya menghangatkan badan dengan wedang ronde.

Berkunjung ke intuisi pendidikan?
Klasik, kataku. Tapi jadi istimewa ketika melangkahkan kaki di sekolah negeri di Jogja. Dimana para pelajar bukan hanya belajar dengan buku, dimana kepintaran bukan hanya nilai, dimana seni pun masuk pengajaran.  Jogja, Kota Pelajar.

Sepanjang jalan dihiasi lukisan-lukisan yang mengisi dinding kosong. Bukan hanya sekedar coretan kata-kata kasar atau grup-grup tertentu seperti di kotaku, tetapi lukisan. Bahkan seng-seng penutup lahan yang sedang dibangun pun jadi sangat menarik karena telah jadi kanvas untuk para pelukis. Segalanya yang ada padamu, isu politik, budaya, jadi topik yang diangkat pada lukisan-lukisan tersebut.

Para musisi jalanan bermodalkan berbagai macam alat musik, dari seruling sampai bass betot, menghidupkan lukisan-lukisan itu. menjadi cerita akan sesuatu yang nyata. Cerita tentangmu dan keistimewaanmu.

Ah ya, aku juga ingat lekukan halus tulisan Jawa tertulis di setiap papan nama jalan. Sombongnya kamu yang memiliki huruf-huruf serumit itu!

Satu lagi yang lebih istimewa padamu, Jogja. Kamu sungguh beruntung memiliki jiwa pengabdian yang tinggi dari masyarakatmu. Para abdi dalem, dengan upah yang tidak seberapa, dengan tegapnya memakai beskap dan tersenyum kepada para pengunjung Keraton. Di setiap upacara, merekalah yang bermandi keringat dan sangat bangga mengerjakannya. Mereka mencintaimu. 

Aku mencintaimu, Jogja.
Kalau cinta akan selalu berusaha kembali, bukan?
Kalau Tuhan mengijinkan, aku akan kembali ke Jogja, bukan hanya untuk berwisata, aku ingin belajar. Belajar sambil menyelami kebudayaanmu. Siapa tahu aku bisa menjadi istimewa juga sepertimu ;P

Aku akan kembali, Jogja!

Monday, January 16, 2012

As Friend

Hello Guitar-man,

Apa kabar?
Lagi deket sama siapa sekarang? Twit-twitnya memanggil banget sih buat dikepo-in hoho.
Okay, am I too curious? -__-"

You know what? Before we ended, I have many things to say actually, but it just can't be said to you directly. And oh, using Bahasa Indonesia in write this can be so dramatic so I decided to use English, allow me :)

Thank you for that two months and sixteen days, for those songs and those jokes.
Thank you for the 'Good Morning' messages and the ride to my home in the night.
Thank you for an hour (or more) midnight phone-calls.
Thank you for introducing me to your sense of music, The Cranberries and Efek Rumah Kaca are on my playlist now.

Sorry I was expecting too much.
Sorry if I made my own decision to end it over.
Sorry I couldn't trust you wholly.  

It's just not you.
You're kind, funny, and a good listener! As friend.
I'd love to hear your jokes. I'd love to hear your opinion about some problems.

I meant it.
I'm really glad because you're my friend!

"Funny and annoying in a time; you're kinda friend for fun that I need."

Keep annoying,
Onk!

Sunday, January 15, 2012

Aku Menantimu

Dear harum tenang jiwa,

Akhir-akhir ini, aku sungguh berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengirimmu, selalu sesaat setelah hujan turun. Tak sedikit orang yang merutuk ketika hujan datang karena setelahnya mereka akan terjebak macet atau banjir sepulang kantor -ya aku tahu, dengan kepala yang penat juga- di jalan dan ditemani asap perusak paru-paru. Berbeda dengan yang terjadi kepadaku.

Bersyukur aku berada di rumah ditemani secangkir coklat hangat, dan kamu. Kolaborasi rintik hujan, tegur sapa helaian daun dan terurainya lapisan tanah karena terhantam tetesan hujan, seperti suatu simfoni yang menenggelamkan kecemasan. Dan wangi itu, kamu. Wangi yang memaksaku memejamkan mata sesaat, menghirup nafas dalam-dalam seperti akan jadi yang terakhir kali. Di saat itu pula semua benang kusut di otak terurai dan tertata lagi menjadi gulungan yang sempurna.

Semuanya bisa meledakkan kepalaku saat itu juga, tetapi gagal karena kamu datang mengingatkanku bahwa ada jeda di setiap terik hidup. Wangi itu membuatku hidup. Ya, kamu :)

Tetaplah datang ketika hujan,
Aku menantimu, sungguh. <3

Saturday, January 14, 2012

Camera Got Pictures!

Mata Lelahmu

Yts. Eyang Putri a.k.a Uti
Di
Tempat

Aku tengah memperhatikan Uti tertidur. Mendengar dengkur halus yang berseteru dengan suara televisi yang dibiarkan menyala. Aku sama sekali tidak berani membut suara sekecil apapun karena pasti akan mengganggumu, ya selain sura televisi itu, semua sudah malas mengganggu pendengaran.

Sebelum tertidur, Uti sempat bercerita tentang tingkah polah cucu Uti yang paling kecil, lengkap dengan semua ekspresi yang ia keluarkan. Membantuku menyelesaikan TTS, juga mengingatkanku bahwa ada makanan yang disisakan untukku, "kalau gak diabisin nanti basi," kata Uti. Terdengar baik bukan? Ya, tapi Uti itu bagaikan penyebab penyakit gondok!

Tahu kenapa?

Setiap aku mengingatkan Uti untuk makan, yang aku dapat malah penolakan. Setiap aku mengingatkan Uti untuk istirahat, seperti terus menerus ada hal yang harus dikerjakan. Setiap aku ingatkan bahwa ada beberapa orang yang sudah tidak perlu disuapi, Uti membela mereka, bahkan lebih dari keturunannya sendiri.

Berkata tidak apa-apa padahal terlihat jelas guratan itu di mata lelah Uti. Banyak yang terpikir, tak tertebak olehku. Terus berusaha menolong orang sampai lupa kebutuhan diri sendiri. Melihat Uti rasanya ingin aku bawa Uti keluar dari rumah itu. Bahwa pada umur yang berkepala enam ini seharusnya Uti tengah bersantai tanpa memikirkan beban hidup orang lain.

Di mata lelahmu, aku melihat ketulusan yang menyiksa.

Salam,
Cucumu yang mencintaimu.