Kepada Jogjakarta (atau Yogyakarta?) yang selalu istimewa,
Baru saja aku melambaikan tangan padamu. Hanya dua hari aku menghabiskan waktu disini, rasanya kurang, sangat kurang. Aku masih ingin menjelajahi setiap trotoar di kota, menyambangi setiap desa wisata dan mengunjungi semua obyek wisata di peta. Yang biasa saja di kotaku, menjadi lebih berkesan padamu.
Naik becak?
Di kotaku hal ini biasa saja. Tapi menjadi istimewa ketika berkeliling sekitar Malioboro. Sepuluh ribu pun cukup untuk diantar membeli oleh-oleh berbonus guyonan ala Jogja dari para tukang becak.
Makan sego kucing?
Kulakukan selalu ketika insomnia menyerang, terlalu biasa. Tapi jadi istimewa ketika aku membelinya di gang dekat penginapanku di Jogja, dan setelahnya menghangatkan badan dengan wedang ronde.
Berkunjung ke intuisi pendidikan?
Klasik, kataku. Tapi jadi istimewa ketika melangkahkan kaki di sekolah negeri di Jogja. Dimana para pelajar bukan hanya belajar dengan buku, dimana kepintaran bukan hanya nilai, dimana seni pun masuk pengajaran. Jogja, Kota Pelajar.
Sepanjang jalan dihiasi lukisan-lukisan yang mengisi dinding kosong. Bukan hanya sekedar coretan kata-kata kasar atau grup-grup tertentu seperti di kotaku, tetapi lukisan. Bahkan seng-seng penutup lahan yang sedang dibangun pun jadi sangat menarik karena telah jadi kanvas untuk para pelukis. Segalanya yang ada padamu, isu politik, budaya, jadi topik yang diangkat pada lukisan-lukisan tersebut.
Para musisi jalanan bermodalkan berbagai macam alat musik, dari seruling sampai bass betot, menghidupkan lukisan-lukisan itu. menjadi cerita akan sesuatu yang nyata. Cerita tentangmu dan keistimewaanmu.
Ah ya, aku juga ingat lekukan halus tulisan Jawa tertulis di setiap papan nama jalan. Sombongnya kamu yang memiliki huruf-huruf serumit itu!
Satu lagi yang lebih istimewa padamu, Jogja. Kamu sungguh beruntung memiliki jiwa pengabdian yang tinggi dari masyarakatmu. Para abdi dalem, dengan upah yang tidak seberapa, dengan tegapnya memakai beskap dan tersenyum kepada para pengunjung Keraton. Di setiap upacara, merekalah yang bermandi keringat dan sangat bangga mengerjakannya. Mereka mencintaimu.
Aku mencintaimu, Jogja.
Kalau cinta akan selalu berusaha kembali, bukan?
Kalau Tuhan mengijinkan, aku akan kembali ke Jogja, bukan hanya untuk berwisata, aku ingin belajar. Belajar sambil menyelami kebudayaanmu. Siapa tahu aku bisa menjadi istimewa juga sepertimu ;P
Aku akan kembali, Jogja!
No comments:
Post a Comment