Yts. Eyang Putri a.k.a Uti
Di
Tempat
Aku tengah memperhatikan Uti tertidur. Mendengar dengkur halus yang berseteru dengan suara televisi yang dibiarkan menyala. Aku sama sekali tidak berani membut suara sekecil apapun karena pasti akan mengganggumu, ya selain sura televisi itu, semua sudah malas mengganggu pendengaran.
Sebelum tertidur, Uti sempat bercerita tentang tingkah polah cucu Uti yang paling kecil, lengkap dengan semua ekspresi yang ia keluarkan. Membantuku menyelesaikan TTS, juga mengingatkanku bahwa ada makanan yang disisakan untukku, "kalau gak diabisin nanti basi," kata Uti. Terdengar baik bukan? Ya, tapi Uti itu bagaikan penyebab penyakit gondok!
Tahu kenapa?
Setiap aku mengingatkan Uti untuk makan, yang aku dapat malah penolakan. Setiap aku mengingatkan Uti untuk istirahat, seperti terus menerus ada hal yang harus dikerjakan. Setiap aku ingatkan bahwa ada beberapa orang yang sudah tidak perlu disuapi, Uti membela mereka, bahkan lebih dari keturunannya sendiri.
Berkata tidak apa-apa padahal terlihat jelas guratan itu di mata lelah Uti. Banyak yang terpikir, tak tertebak olehku. Terus berusaha menolong orang sampai lupa kebutuhan diri sendiri. Melihat Uti rasanya ingin aku bawa Uti keluar dari rumah itu. Bahwa pada umur yang berkepala enam ini seharusnya Uti tengah bersantai tanpa memikirkan beban hidup orang lain.
Di mata lelahmu, aku melihat ketulusan yang menyiksa.
Salam,
Cucumu yang mencintaimu.
No comments:
Post a Comment