Sunday, January 15, 2012

Aku Menantimu

Dear harum tenang jiwa,

Akhir-akhir ini, aku sungguh berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengirimmu, selalu sesaat setelah hujan turun. Tak sedikit orang yang merutuk ketika hujan datang karena setelahnya mereka akan terjebak macet atau banjir sepulang kantor -ya aku tahu, dengan kepala yang penat juga- di jalan dan ditemani asap perusak paru-paru. Berbeda dengan yang terjadi kepadaku.

Bersyukur aku berada di rumah ditemani secangkir coklat hangat, dan kamu. Kolaborasi rintik hujan, tegur sapa helaian daun dan terurainya lapisan tanah karena terhantam tetesan hujan, seperti suatu simfoni yang menenggelamkan kecemasan. Dan wangi itu, kamu. Wangi yang memaksaku memejamkan mata sesaat, menghirup nafas dalam-dalam seperti akan jadi yang terakhir kali. Di saat itu pula semua benang kusut di otak terurai dan tertata lagi menjadi gulungan yang sempurna.

Semuanya bisa meledakkan kepalaku saat itu juga, tetapi gagal karena kamu datang mengingatkanku bahwa ada jeda di setiap terik hidup. Wangi itu membuatku hidup. Ya, kamu :)

Tetaplah datang ketika hujan,
Aku menantimu, sungguh. <3

No comments:

Post a Comment